Longsor di Sibolga, Sumatera Utara

longsor
72 / 100 SEO Score
0
(0)

Longsor di Sibolga, Sumatera Utara, adalah bagian dari bencana banjir dan longsor besar yang melanda Kota Sibolga pada 25 November 2025, bukan pada 25 Desember 2025. Bencana ini dipicu oleh hujan deras yang berkepanjangan akibat siklon tropis, menyebabkan tanah di perbukitan labil dan akhirnya longsor di banyak titik di Kota Sibolga.

Kronologi Bencana

longsor

Pada 25 November 2025, hujan lebat mengguyur Sibolga dalam waktu yang sangat lama, membuat tanah di kawasan perbukitan tidak mampu menahan beban air. Akibatnya, terjadi rangkaian longsor di 18 titik yang tersebar di empat kecamatan di Kota Sibolga, terutama di kawasan permukiman padat seperti Jalan Murai Ujung, Kelurahan Aek Manis, dan sekitar Masjid Budi Sehati.

Longsor ini menimpa ratusan rumah warga, menyebabkan kerusakan berat pada infrastruktur, serta mengganggu listrik, telekomunikasi, dan pasokan air bersih. Bencana ini juga menyebabkan banjir bandang yang memperparah situasi, karena material longsor menyumbat aliran sungai dan drainase.

Korban Jiwa dan Pengungsi

Hingga awal Desember 2025, bencana banjir dan longsor di Sibolga telah mengakibatkan 55 orang meninggal dunia, dengan 52 jenazah berhasil ditemukan dan 3 orang lainnya masih dalam pencarian. Lokasi dengan korban jiwa terbanyak adalah Jalan Murai Ujung, Kelurahan Aek Manis, di mana 43 warga tertimbun longsor.

Selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan kerusakan pada 231 rumah warga (rusak berat) dan membuat 2.272 warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Mereka mengungsi di posko pengungsian yang didirikan oleh pemerintah daerah, Polres Sibolga, dan berbagai lembaga kemanusiaan.

Pencarian Korban Terakhir

Salah satu momen paling menyentuh adalah pencarian terhadap jenazah Sofia Anggraini (12 tahun), seorang anak perempuan yang tertimbun longsor di belakang Masjid Budi Sehati, Jalan S.M. Raja, Kelurahan Pancuran Gerobak, Kecamatan Sibolga Sambas.

Tim gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, Damkar, dan masyarakat melakukan pencarian secara manual selama hampir 29 hari, karena kondisi tanah yang labil dan berpotensi longsor susulan. Pada 23 Desember 2025, sekitar pukul 14.15 WIB, tim akhirnya berhasil menemukan jenazah Sofia yang telah tertimbun selama hampir satu bulan.

Penemuan jenazah Sofia ini menjadi simbol akhir masa tanggap darurat bencana di Sibolga, sekaligus mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana dan penanganan pasca-bencana yang cepat dan terkoordinasi.

Dampak dan Penanganan

Bencana ini menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah, termasuk jalan, jembatan, listrik, dan jaringan telekomunikasi yang sempat lumpuh total. Pemerintah Kota Sibolga, Polres Sibolga, TNI, dan BPBD setempat bekerja sama mendirikan posko pengungsian, menyalurkan bantuan logistik, dan memulihkan layanan dasar.

Kasus Sibolga juga menjadi peringatan bagi daerah-daerah lain di Indonesia tentang risiko bencana hidrometeorologi, terutama di kawasan perbukitan dan permukiman padat yang rawan longsor saat musim hujan. stephenpalmer

Secara keseluruhan, longsor di Sibolga adalah bagian dari bencana besar yang mengguncang Kota Sibolga pada akhir November 2025, dengan korban jiwa puluhan orang, ribuan pengungsi, dan kerusakan luas yang membutuhkan penanganan jangka panjang dari pemerintah dan masyarakat. luck365

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.