perang Konflik dalam Thailand–Kamboja memanas lagi

perang konflik
69 / 100 SEO Score
0
(0)

perang konflik bersenjata Thailand–Kamboja di perbatasan memang kembali memanas dan levelnya jauh lebih serius sepanjang paruh kedua 2025, dengan puncak eskalasi terjadi menjelang dan di bulan Desember 2025.

Latar belakang konflik perbatasan

perang konflik

Sengketa ini berakar pada perbatasan darat di sekitar kompleks candi kuno seperti Prasat Ta Muen Thom dan kawasan dekat Preah Vihear yang sudah lama diperdebatkan.

  • Kedua negara punya klaim berbeda atas garis batas, diwarisi dari peta kolonial dan putusan-putusan lama Mahkamah Internasional.
  • Sejak awal 2025, sudah ada beberapa insiden kecil: patroli saling mendekat, ketegangan saat wisatawan Kamboja hendak menyanyikan lagu kebangsaan di area sengketa, hingga baku tembak singkat yang menewaskan seorang prajurit Kamboja pada Mei 2025.

Upaya dialog militer ke militer pada pertengahan tahun tidak menghasilkan terobosan berarti, dan masing‑masing pihak justru memperkuat pasukan di perbatasan.

Eskalasi besar: serangan Juli dan berlanjut ke Desember

Titik lonjakan pertama terjadi sekitar 24 Juli 2025 ketika:

  • Thailand melaporkan drone Kamboja terbang di atas area depan Prasat Ta Muen Thom dan menyebut ada pasukan Kamboja bersenjata mendekati kawat berduri di depan pos mereka.​
  • Terjadi baku tembak dan kemudian Thailand mengklaim Kamboja menembak lebih dulu, sementara Kamboja menuduh Thailand melanggar wilayah dan menutup akses ke candi yang disengketakan.

Menanggapi situasi ini, militer Thailand melancarkan operasi skala besar:

  • Enam jet F‑16 AU Thailand membombardir posisi Kamboja di sekitar Chong An Ma, lalu mengklaim menghancurkan beberapa pangkalan militer Kamboja.
  • Thailand mengumumkan operasi darat dan udara berkode “Operasi Yuttha Bodin” yang dipimpin Jenderal Pana Klaewblaudtuk.

PM Hun Sen di sisi Kamboja menyatakan “tidak punya pilihan selain melawan balik”, mengaku ikut memantau operasi militer lewat sambungan video, dan menuduh Thailand melanggar integritas teritorial Kamboja.

Kondisi kemanusiaan: pengungsi ratusan ribu orang

Memasuki Desember 2025, laporan media internasional menyebut:

  • Sedikitnya 10–13 orang tewas (kombinasi tentara dan warga sipil) dalam rangkaian bentrokan dan serangan artileri serta udara.
  • Pengungsi menembus ratusan ribu: ada laporan sekitar 140.000 orang mengungsi pada awal Desember dan kemudian berkembang menjadi lebih dari 500.000 orang yang meninggalkan rumah di lima provinsi perbatasan.​​
  • Warga mengungsi ke kamp darurat, sekolah, pagoda, dan fasilitas publik lain di kedua sisi perbatasan, dengan laporan kondisi psikologis warga digambarkan sebagai “mimpi buruk” akibat dentuman artileri dan serangan udara.​

Pemerintah Thailand sampai meminta warganya yang berada di Kamboja segera pulang, sementara pemerintah provinsi di Kamboja mengevakuasi ribuan warga dari zona tembak.

Klaim gencatan senjata dan bantahan

Pada awal Desember 2025 muncul klaim dari Presiden AS Donald Trump bahwa ia telah memediasi gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja.

  • Namun otoritas dan media di kawasan melaporkan pertempuran masih berlanjut bahkan setelah klaim tersebut.
  • Kamboja kemudian menutup seluruh pos perbatasannya dengan Thailand pada 13 Desember 2025, dan pejabat Thailand secara terbuka menyebut pernyataan Trump tidak sesuai dengan fakta di lapangan karena ledakan dan serangan udara masih terjadi.​ stephenpalmer

Ini membuat konflik Thailand–Kamboja di akhir 2025 dilihat sebagai salah satu titik panas baru di Asia Tenggara, dengan dimensi militer, politik regional, dan krisis kemanusiaan yang cukup berat. luck365

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.