starbuck tutup ratusan gerai dan phk 900 karyawan tambahan
Starbucks Corporation mengumumkan restrukturisasi besar-besaran sebagai bagian dari upaya memperbaiki kinerja keuangannya yang tengah lesu di pasar Amerika Utara. Restrukturisasi ini meliputi penutupan ratusan gerai, yang setara dengan sekitar 1 persen dari total gerai mereka di wilayah tersebut, serta pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap sekitar 900 karyawan non-ritel.
Strategi transformasi yang diberi tajuk “Back to Starbucks” ini diumumkan oleh CEO Brian Niccol pada akhir September 2025. Dalam dokumen resmi yang disampaikan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Starbucks menyatakan akan menutup lebih dari 100 gerai di Amerika Utara pada tahun fiskal 2025. Jumlah gerai yang dioperasikan langsung diperkirakan berkurang dari lebih dari 11.400 menjadi sekitar 18.300 pada akhir September. Sebagian besar gerai yang akan ditutup dipilih berdasarkan kinerja yang lemah atau tidak memenuhi ekspektasi dalam hal pengalaman pelanggan dan potensi ekonomi.

Langkah ini menjadi salah satu upaya signifikan Starbucks untuk membalikkan tren penurunan penjualan beruntun yang dialami selama beberapa waktu terakhir. CEO Brian Niccol menegaskan bahwa walaupun penutupan dan PHK merupakan keputusan sulit, hal ini penting untuk mengembalikan pertumbuhan bisnis dan memastikan kelangsungan operasional perusahaan.
Dari total biaya restrukturisasi mencapai US$1 miliar (sekitar Rp16,7 triliun), sekitar 90 persen dialokasikan untuk Amerika Utara. Angka itu meliputi sekitar US$150 juta untuk pesangon dan kompensasi bagi karyawan yang terkena PHK serta US$850 juta untuk biaya penutupan gerai. Biaya ini diperkirakan akan menjadi beban utama dalam laporan keuangan tahun fiskal 2025.
Dalam surat terbuka kepada para karyawan, Brian Niccol menyampaikan bahwa manajemen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan toko, memastikan bahwa gerai yang ditutup adalah yang tidak mampu menciptakan lingkungan dan pengalaman yang diharapkan pelanggan maupun mitra. Perusahaan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan serta merenovasi lebih dari 1.000 gerai dengan desain baru yang menghadirkan kenyamanan lebih, seperti penambahan kursi yang nyaman, colokan listrik yang memadai, dan suasana yang lebih hangat.
Penutupan gerai ini bukanlah hal yang baru dalam strategi bisnis Starbucks, namun skala kali ini tergolong besar dan merupakan bagian dari perubahan mendalam. Restrukturisasi ini juga diikuti dengan rencana penyederhanaan menu dan efisiensi operasi untuk menyesuaikan diri dengan dinamika pasar yang semakin kompetitif.
Meski menutup sejumlah gerai dan mengurangi jumlah karyawan, Starbucks tetap optimistis dapat kembali ke fase pertumbuhan jangka panjang dan memperkuat posisinya sebagai peritel minuman kopi terkemuka di dunia.
Dampak dari restrukturisasi ini juga dirasakan di Indonesia dan pasar Asia lainnya, meskipun fokus utama adalah Amerika Utara. Sebelumnya, Starbucks telah melakukan beberapa langkah untuk beradaptasi dengan perubahan pasar dan tren konsumen global.
PHK ini akan berdampak serius bagi sekitar 900 karyawan, terutama yang bekerja di non-ritel, namun Starbucks menjanjikan akan memberikan kompensasi dan dukungan transisi yang layak bagi mereka yang terdampak. Upaya pengurangan tenaga kerja ini juga bagian dari penataan efisiensi yang dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan bisnis yang sehat.
Dengan penutupan ratusan gerai dan gelombang PHK, Starbucks berupaya merespons tekanan keuangan dan perubahan tren konsumen di era pasca-pandemi dan kondisi ekonomi global yang tidak stabil. Perusahaan menganggap ini sebagai langkah strategis penting untuk memastikan masa depan yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan. Luck365
Secara keseluruhan, restrukturisasi besar tersebut menjadi babak baru dalam sejarah perkembangan Starbucks yang menuntut adaptasi cepat dan inovasi berkelanjutan untuk bersaing di pasar kopi yang semakin ketat. stephenpalmer

